Banner Iklan

Tri Gatra Desa Berani Jadi Akselerasi Pembangunan Desa di Bombana

 

Kilas Sultra- BOMBANA –Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) terus memperkuat arah pembangunan desa sebagai fondasi utama pembangunan daerah Kabupaten Bombana.

Sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, DPMD Bombana kini mengakselerasi implementasi 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia melalui konsep Tri Gatra Desa Berani.

Konsep ini menitikberatkan pada penguatan ekonomi, literasi, dan pengembangan kawasan berbasis agrominapolitan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPMD Kabupaten Bombana, Hamlin, S.Pd., M.Si, mengatakan bahwa desa saat ini tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menjadi penggerak kemajuan daerah.

Menurut Hamlin, arah pembangunan desa yang saat ini dijalankan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki tujuan besar, yakni menciptakan desa yang mandiri, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Pembangunan Indonesia dimulai dari desa. Ketika desa kuat, maka daerah akan kuat. Ketika daerah kuat, maka bangsa juga akan semakin maju. Karena itu seluruh program pembangunan desa harus diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan memperkuat ekonomi lokal,” ujarnya.

 

 

Ia menjelaskan bahwa Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal telah menetapkan 12 aksi prioritas yang menjadi pedoman pembangunan desa di seluruh Indonesia.

Program tersebut meliputi dukungan terhadap program makan bergizi gratis, peningkatan ketahanan pangan, pengembangan desa swasembada energi, desa swasembada air, mendorong desa ekspor, penguatan peran pemuda desa, konsolidasi program kementerian dan lembaga yang masuk ke desa, digitalisasi desa, peningkatan investasi desa, penguatan pengawasan, pembangunan desa tangguh bencana, hingga percepatan pembangunan daerah tertinggal.

Menurut Hamlin, seluruh agenda tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat desa di Kabupaten Bombana.

“Kalau kita lihat satu per satu, seluruh prioritas itu sebenarnya menjawab persoalan yang dihadapi desa saat ini. Mulai dari kebutuhan pangan, akses ekonomi, teknologi, investasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia,” katanya.

Salah satu prioritas yang menjadi perhatian utama DPMD Bombana adalah ketahanan pangan. Hamlin menilai sektor ini memiliki peran strategis karena sebagian besar masyarakat Bombana masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.

Baca Juga  Latihan terakhir, Ketua KONI Bombana pantau tim Sepakbola Porprov 2022

Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa Merah Putih, serta pengembangan kawasan produksi yang mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.

Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut peningkatan pendapatan petani dan keberlanjutan ekonomi desa.

“Kalau petani sejahtera, nelayan sejahtera, peternak sejahtera, maka ketahanan pangan otomatis akan kuat. Karena itu pembangunan ekonomi desa harus dimulai dari penguatan sektor produktif masyarakat,” ujarnya.

Selain ketahanan pangan, Hamlin juga menyoroti pentingnya digitalisasi desa. Di era modern saat ini, desa tidak boleh tertinggal dalam pemanfaatan teknologi informasi.

 

 

Digitalisasi dinilai mampu mempercepat pelayanan publik, meningkatkan transparansi pemerintahan desa, serta membuka akses yang lebih luas terhadap pasar dan peluang usaha.

“Sekarang dunia sudah berubah. Produk desa tidak cukup hanya dijual di pasar lokal. Dengan teknologi digital, produk desa bisa dipasarkan lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional,” katanya.

Hamlin menjelaskan bahwa untuk mengimplementasikan berbagai program tersebut, DPMD Bombana mengusung konsep Tri Gatra Desa Berani sebagai strategi percepatan pembangunan desa.

Konsep tersebut terdiri atas tiga pilar utama, yakni penguatan ekonomi desa, peningkatan literasi masyarakat, dan pengembangan kawasan berbasis agrominapolitan.

Pilar pertama adalah ekonomi. Menurut Hamlin, pembangunan desa harus mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Karena itu, DPMD terus mendorong penguatan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, program One Village One Product (OVOP), serta berbagai usaha ekonomi desa lainnya.

“Desa harus mampu menghasilkan nilai ekonomi dari potensi yang dimiliki. Jangan hanya menjual bahan mentah, tetapi harus mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Pilar kedua adalah literasi. Hamlin menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Baca Juga  Pekan Vaksinasi di Bombana Lampaui Target

Literasi yang dimaksud tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga literasi keuangan, literasi digital, literasi usaha, dan kemampuan masyarakat dalam memahami berbagai peluang ekonomi yang tersedia.

“Kalau masyarakat memiliki pengetahuan yang baik, maka mereka akan lebih siap menghadapi perubahan dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada,” katanya.

Sementara pilar ketiga adalah kawasan agrominapolitan. Konsep ini merupakan strategi pembangunan yang mengintegrasikan sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan sebagai kekuatan utama ekonomi daerah.

Hamlin mengatakan bahwa Bombana memiliki sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan melalui pendekatan tersebut.

“Bombana memiliki lahan pertanian yang luas, kawasan perikanan yang besar, serta potensi perkebunan yang menjanjikan. Semua itu harus dikelola secara terpadu agar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Hamlin, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya bergantung pada pemerintah desa semata. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga masyarakat itu sendiri.

Karena itu, DPMD Bombana terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar seluruh program pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Ia juga menegaskan bahwa percepatan pembangunan desa harus dilakukan secara terukur dan berorientasi pada hasil yang nyata.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar menjalankan program atau menghabiskan anggaran. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya melalui peningkatan pendapatan, terbukanya lapangan kerja, membaiknya pelayanan publik, dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat desa,” katanya.

Hamlin optimistis bahwa dengan dukungan seluruh pihak, desa-desa di Bombana mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

“Tri Gatra Desa Berani bukan sekadar slogan. Ini adalah arah pembangunan yang ingin kita wujudkan bersama. Ketika ekonomi desa tumbuh, literasi masyarakat meningkat, dan kawasan agrominapolitan berkembang, maka desa akan menjadi lebih mandiri, berdaya saing, dan sejahtera. Dari desa yang kuat itulah masa depan Bombana akan dibangun,” pungkasnya. (ADV)

 

Tulis Komentar