Banner Iklan

Tanpa Talud, Ombak tinggi incar pemukiman Masaloka Selatan

 

KilasSultra,com- BOMBANA- Warga Desa Masaloka Selatan, Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya, Kabupaten Bombana hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Bila musim Barat tiba, ombak setinggi  dua hingga tiga meter siap menerjang pemukiman

Wilayah pesisir itu dihuni sekira 23 kepala keluarga (KK). Sebagian bermukim dibibir pantai sekira 130 meter panjangnya. Pada tahun 2017 lalu, Desa nelayan itu dianggap primadona.  Setidaknya menjadi duta Kabupaten Bombana dalam lomba desa tingkat provinsi Sulawesi Tenggara.

Namun desa andalan dulu itu, kini dihantui bayang-bayang petaka. Daerah penyuplai ikan di Rumbia ibukota Kabupaten Bombana itu, tidak disokong  pembuatan Talud sebagai penahan ombak.

Akibatnya, setiap kali angin kencang disaat air kondisi air laut pasang , ombak sekira 2 hingga tiga meter selalu mengincar pemukiman. Warga mengaku was-was. sebab sebelumya peristiwa buruk pernah terjadi

Trauma masa lalu itu  masih membekas. Pada tahun 2019, gelombang pasang besar pernah menghantam desa ini dan menghancurkan sedikitnya 23 rumah warga. Banyak keluarga terpaksa mengungsi dan mengalami kerugian material yang tidak sedikit.

 

 

Namun anehnya, hingga hari ini belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Warga mengaku sejak peristiwa 2019 tersebut, usulan pembangunan talud pantai terus disampaikan secara resmi.

Mulai dari Musyawarah Desa (Musdes), Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan hingga Musrenbang kabupaten, bahkan melalui hasil reses anggota DPRD, aspirasi tersebut tidak kunjung digubris oleh pemerinta

“Namun sejak 2019 hingga tahun ini, usulan itu belum juga direalisasikan oleh pemerintah,” ujar saprin warga setempat .

Desa Masaloka Selatan  merupakan wilayah kepulauan yang memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman gelombang laut.

Secara geografis, desa ini dikelilingi oleh perairan yang bersentuhan dengan laut atau selat, menjadikannya sangat terbuka terhadap terjangan ombak besar dan cuaca ekstrem.

Kondisi geografis tersebut membuat desa ini seolah berada dalam kepungan perairan, sehingga keberadaan infrastruktur pelindung pantai menjadi sangat vital.

Anggota DPRD Bombana Zalman mengakui persoalan itu,Tanpa hadirnya talud sebagai penahan, ancaman kerusakan rumah, fasilitas umum, bahkan potensi korban jiwa menjadi risiko nyata yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

dia mengatakan ada dana desa tapi tidak cukup untuk menanggulanginya. butuh bantuan pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi.

Masyarakat Desa Masaloka Selatan berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi . Mereka menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan menyangkut keamanan dan keselamatan warga pesisir.

“Jangan menutup mata. Ini soal keselamatan masyarakat. Kami sudah mengusulkan sejak 2019, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” kesal Zalman.

Dengan jumlah sekitar 23 KK yang saat ini berada di zona rawan dan pengalaman pahit 23 rumah hancur akibat gelombang pasang sebelumnya, pembangunan talud sepanjang kurang lebih 100 meter dinilai sebagai kebutuhan mendesak.

Warga berharap pemerintah segera turun langsung meninjau kondisi di lapangan dan mengambil langkah konkret sebelum bencana kembali terjadi.

Kini, setiap kali angin laut bertiup kencang dan ombak mulai meninggi, kecemasan menyelimuti Desa Masaloka Selatan. Harapan mereka sederhana,  adanya kepedulian dan tindakan nyata dari pemerintah daerah dan provinsi demi melindungi masyarakat kepulauan yang hidup berdampingan dengan ancaman laut setiap saat. (B)

Tulis Komentar