Mengenal Plt Kadis Pariwisata Bombana Astri As Ad, Alumni IPDN yang Meniti Karier dari Bilik Kelurahan
Kilas Sultra- BOMBANA- Nama Astri As Ad, S.IP., M.A.P, terpilih sebagai salah satu perempuan yang mendapat mandat untuk Pimpin Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah raga (Disparpora) Kabupaten Bombana
Ia didapuk oleh Pemerintahan Burhanuddin-Ahmad Yani (Bupati dan wakil Bupati Bombana) pada 18 Mei 2026, Nahkodai Dunia Pariwisata yang kini jadi harapan baru bagi Pemkab Bombana.
Perempuan kelahiran Pangkajene 30 September 1986 meniti karier ASN mulai dari tingkat kelurahan. Sempat menjabat Sekretaris Kelurahan, lurah, pejabat kecamatan, Sekretaris dinas dan kini jabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas sebagai jabatan barunya
Di balik jabatan yang disandangnya hari ini, tersimpan hampir dua dekade kisah pengabdiannya yang dibangun dari pengalaman langsung layani masyarakat.
Ia tumbuh dari lorong-lorong pelayanan publik paling dasar, menyaksikan langsung denyut kehidupan masyarakat sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebuah organisasi perangkat daerah.
Bagi Astri, birokrasi bukan sekadar urusan meja kerja, dokumen, maupun rapat. Ia mengenalnya dari bawah. Dari kantor kelurahan, kecamatan, hingga lingkungan desa yang menjadi ruang belajar paling nyata tentang bagaimana pemerintah hadir di tengah masyarakat.
Perjalanan kariernya dimulai usai menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), sebuah lembaga yang selama puluhan tahun mencetak kader-kader pemerintahan di Indonesia.
Dari kampus kedinasan itu, Astri memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada 2009. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Halu Oleo Kendari dan meraih gelar Magister Administrasi Publik.
Pilihan pendidikannya seolah menjadi cerminan jalan hidup yang kemudian ia tempuh untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada pemerintahan dan pelayanan publik.
Karier birokrasi Astri tidak dimulai dari ruang berpendingin udara atau jabatan strategis di ibu kota kabupaten.
Ia memulai langkahnya sebagai Sekretaris Kelurahan Kasipute pada 2009. Jabatan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di sanalah ia pertama kali bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat.
Setiap hari, kantor kelurahan menjadi tempat warga mengurus administrasi, menyampaikan keluhan, hingga meminta solusi atas berbagai persoalan sosial. Di ruang pelayanan itulah Astri memahami bahwa birokrasi sejatinya adalah seni mendengar dan melayani.
Tiga tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Pemerintahan di Kecamatan Rumbia Tengah. Posisi itu memberinya cakupan kerja yang lebih luas.

Ia tidak hanya berhadapan dengan satu wilayah, melainkan harus memahami dinamika pemerintahan di tingkat kecamatan yang menjadi penghubung antara desa dan pemerintah kabupaten.
Rekan-rekannya mengenal Astri sebagai sosok yang tekun dan cermat. Karakter itu pula yang membuat kariernya terus bergerak naik.
Tahun 2015 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pengabdiannya. Ia dipercaya menjabat Lurah Taubonto.
Sebagai lurah, Astri berada di garis depan pelayanan publik. Ia harus memastikan roda pemerintahan berjalan, program pembangunan terlaksana, dan masyarakat memperoleh pelayanan yang layak.
Menjadi lurah mengajarkannya satu hal penting, Bahwa pembangunan tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat.
Pengalaman itu kelak menjadi bekal berharga ketika ia memasuki bidang pemberdayaan masyarakat.
Setelah bertugas di Kecamatan Rarowatu, Astri dipercaya menjadi Kepala Seksi Pemberdayaan dan Pengembangan Kelembagaan Masyarakat pada 2020.
Jabatan tersebut menempatkannya dalam berbagai program penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa.
Ia kemudian melanjutkan kiprah sebagai Penggerak Swadaya Masyarakat Muda. Dalam posisi ini, fokus kerjanya semakin dekat dengan upaya membangun kemandirian masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.

Bagi Astri, masyarakat bukan objek pembangunan. Mereka adalah pelaku utama yang harus diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Perjalanan panjang di lapangan membawa Astri ke jenjang yang lebih strategis. Pada Juli 2024, ia dipercaya menjadi Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bombana.
Jabatan tersebut merupakan salah satu posisi penting dalam organisasi karena menjadi motor penggerak administrasi sekaligus penghubung berbagai program pembangunan desa.
Dalam perjalanan kariernya sebagai ASN, Astri juga terus mengalami peningkatan pangkat hingga mencapai golongan Pembina (IV/a), sebuah pencapaian yang menggambarkan konsistensi pengabdian selama hampir dua dekade.
Negara bahkan memberikan penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun pada 2018 sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas dan dedikasinya sebagai aparatur sipil negara.
Tantangan Baru di Dunia Pariwisata
Kini, tantangan baru menantinya. Ketika dipercaya sebagai Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bombana, Astri memasuki sektor yang berbeda dari sebagian besar perjalanan kariernya. Namun jika ditelisik lebih jauh, benang merahnya tetap sama. yakni pemberdayaan masyarakat.
Pariwisata modern tidak lagi sekadar membangun destinasi atau menghadirkan infrastruktur. Pariwisata berkembang ketika masyarakat menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri. Desa wisata tumbuh karena masyarakat terlibat. Produk ekonomi kreatif berkembang karena masyarakat diberdayakan.
“Destinasi menjadi hidup bila masyarakat merasa memiliki,” ujarnya
Pengalaman Astri selama bertahun-tahun di bidang pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan tersebut.

Bombana sendiri memiliki beragam potensi wisata, mulai dari wisata bahari, wisata budaya, hingga wisata alam yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi itu membutuhkan pengelolaan yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Di titik inilah pengalaman Astri menjadi relevan. Ia memahami bagaimana membangun komunikasi dengan masyarakat desa, menggerakkan partisipasi warga, serta menyinergikan program pemerintah dengan kebutuhan riil masyarakat.
Perempuan, Ibu, dan Birokrat
Di luar aktivitasnya sebagai pejabat publik, Astri juga menjalankan peran sebagai ibu dari tiga orang anak. Di tengah kesibukan birokrasi yang padat, ia tetap menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan tugas pemerintahan.
Perjalanan Astri menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia tumbuh perlahan dari meja pelayanan kelurahan, ruang rapat kecamatan, dan berbagai pengalaman lapangan yang menempa ketangguhan.

Dari Kasipute hingga memimpin Dinas Pariwisata Bombana, Astri As Ad telah menempuh perjalanan panjang seorang birokrat daerah. Sebuah perjalanan yang dibangun oleh kerja senyap, pengalaman lapangan, dan keyakinan bahwa pembangunan yang baik selalu bermula dari kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Bombana, sosok Astri bukan hanya cerita tentang karier seorang ASN. Ia adalah gambaran tentang bagaimana pengabdian yang dijalani secara konsisten dapat membuka jalan menuju tanggung jawab yang lebih besar. Dan kini, tanggung jawab itu bernama: membangun masa depan pariwisata Bombana. (Badar)
