Kilas Sultra- BOMBANA – Di balik rimbunnya pepohonan yang mengelilingi Kampung Adat Hukaea Laea, denting alat musik tradisional dan sambutan hangat masyarakat Moronene menjadi penanda bahwa sebuah warisan budaya masih hidup dan terjaga.
Kamis, 2 juli 2026 suasana kampung adat di Kecamatan Lantari Jaya itu tampak berbeda. Sejumlah pejabat Kementerian Pariwisata Republik Indonesia datang untuk melihat langsung potensi wisata budaya yang akan diperkenalkan kepada wisatawan mancanegara melalui ajang Sail to Indonesia 2027.
Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan menjelang pelaksanaan Sail to Indonesia 2027, yang akan menempatkan Kabupaten Bombana sebagai salah satu titik persinggahan kapal layar internasional di Sulawesi Tenggara.
Pemerintah berharap momentum ini tidak hanya memperkenalkan keindahan alam Bombana, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya Moronene yang selama ini menjadi identitas daerah.
Rombongan dipimpin Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pariwisata RI, Franky, didampingi Ketua Organizer Sail to Indonesia, Raymond Timotius Lesmana. Turut mendampingi Plt Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bombana Andi Astri As’ad, Staf Ahli Hukum Bupati Bombana Deddy Fan Alva Slamet, Sekretaris Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Sarwana Amir, serta Kasubag Perencanaan Ridwan Nurdin.

Setibanya di Kampung Adat Hukaea Laea, rombongan disambut Kepala Kampung Adat Mansur Lababa bersama masyarakat adat melalui prosesi penyambutan khas Suku Moronene. Tarian tradisional, busana adat, hingga ritual penyambutan yang diwariskan secara turun-temurun memperlihatkan bahwa tradisi leluhur masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Bagi Kementerian Pariwisata, keaslian budaya seperti inilah yang menjadi daya tarik utama dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Kampung Adat Hukaea Laea dinilai memiliki karakter yang berbeda dibandingkan destinasi wisata budaya lainnya karena masyarakatnya masih menjalankan berbagai tradisi adat dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Kampung Adat Hukaea Laea, Mansur Lababa, mengatakan kunjungan tim Kementerian Pariwisata merupakan langkah awal untuk memastikan kesiapan kampung adat menyambut wisatawan internasional yang akan datang bersama rombongan Sail to Indonesia 2027.
“Tujuan kunjungan ini untuk memastikan keberadaan masyarakat adat Hukaea Laea sekaligus melihat langsung lokasi yang memiliki potensi wisata budaya. Insyaallah pada akhir Agustus nanti wisatawan mancanegara akan kembali datang ke kampung adat ini melalui Sail to Indonesia,” ujarnya.
Menurut Mansur, masyarakat Hukaea Laea telah lama berkomitmen menjaga adat istiadat Moronene. Berbagai tradisi, seperti Montewehi Wonua, yakni ritual pembersihan kampung sebagai simbol menjaga harmoni antara manusia dan alam, serta Mewusoi, yang menjadi bagian dari tradisi adat masyarakat Moronene, masih rutin dilaksanakan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya kami masih asli. Apa yang akan dilihat wisatawan nanti bukan pertunjukan yang dibuat-buat, tetapi memang kehidupan masyarakat adat sehari-hari. Itu yang menjadi kekuatan Kampung Adat Hukaea Laea,” katanya.
Kabupaten Bombana menjadi salah satu dari empat daerah di Sulawesi Tenggara yang dipilih sebagai lokasi persinggahan peserta Sail to Indonesia 2027, bersama Kabupaten Wakatobi, Buton Selatan, dan Muna Barat.
Dalam agenda tersebut, sekitar 60 kapal layar yang membawa peserta dari sekitar 60 negara dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Ferry Bombana pada akhir Agustus mendatang.
Para peserta merupakan pelayar internasional yang mengelilingi dunia menggunakan kapal layar dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama karena kekayaan alam dan budayanya.
Kehadiran mereka dipandang sebagai peluang strategis untuk memperkenalkan Bombana kepada pasar wisata internasional.
Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bombana, Andi Astri As’ad, mengatakan Pemerintah Kabupaten Bombana tidak ingin hanya menjadi lokasi persinggahan kapal layar. Lebih dari itu, Bombana ingin menghadirkan pengalaman yang berkesan melalui kekayaan budaya dan keramahan masyarakat.
“Sail to Indonesia bukan sekadar kunjungan wisatawan, tetapi kesempatan memperkenalkan Bombana kepada dunia. Karena itu kami menyiapkan destinasi yang memiliki nilai autentik, salah satunya Kampung Adat Hukaea Laea yang masih menjaga tradisi Moronene hingga saat ini,” ujarnya.
Menurut Astri, wisatawan mancanegara saat ini tidak hanya mencari panorama alam, tetapi juga pengalaman budaya yang otentik. Kampung Adat Hukaea Laea dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena menawarkan interaksi langsung dengan masyarakat adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur.
Selain mengunjungi kampung adat, para peserta Sail to Indonesia juga akan diajak menikmati sejumlah destinasi unggulan Bombana, seperti penangkaran rusa, kawasan konservasi anoa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, pantai-pantai eksotis, hingga berbagai potensi wisata alam dan kuliner khas daerah.
Pemerintah daerah telah menyusun paket kunjungan yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan ekonomi kreatif agar wisatawan memperoleh pengalaman yang utuh selama berada di Bombana.
Astri optimistis kehadiran peserta Sail to Indonesia akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Kehadiran wisatawan asing diperkirakan akan meningkatkan aktivitas pelaku UMKM, perajin, penyedia jasa transportasi, pelaku kuliner, hingga masyarakat yang terlibat dalam atraksi budaya.
“Kami berharap masyarakat menjadi pelaku utama dalam kegiatan ini. Wisatawan tidak hanya datang melihat, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, menikmati kuliner, membeli kerajinan tangan, dan mengenal lebih dekat budaya Moronene. Dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Menurut Astri, promosi melalui Sail to Indonesia juga memiliki efek jangka panjang. Para peserta yang berasal dari berbagai negara biasanya mendokumentasikan perjalanan mereka dan membagikannya melalui komunitas pelayar internasional maupun media sosial.
“Ketika mereka pulang dan menceritakan pengalaman selama berada di Bombana, sesungguhnya mereka sedang menjadi duta promosi bagi daerah kita. Karena itu kami ingin memberikan pengalaman terbaik kepada setiap tamu yang datang,” ujarnya.
Bagi masyarakat Hukaea Laea, kunjungan Kementerian Pariwisata menjadi penegasan bahwa budaya lokal memiliki nilai penting dalam pembangunan pariwisata nasional. Kampung adat yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat Moronene kini diproyeksikan menjadi jendela yang memperkenalkan identitas Bombana kepada dunia.
Momentum Sail to Indonesia 2027 pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan kapal layar internasional. Bagi Bombana, inilah kesempatan menunjukkan bahwa kekayaan daerah tidak hanya tersimpan pada bentang alamnya, tetapi juga pada budaya yang tetap hidup, masyarakat yang menjaga tradisi, serta semangat untuk menjadikan warisan leluhur sebagai kekuatan dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. (ADV)

