Banner Iklan

Jejak Kerajaan Moronene di Pulau Kabaena, Benteng Tawulagi Menjadi Saksi Kejayaan Masa Lampau

Kilas Sultra – BOMBANA- Dibalik hamparan laut biru yang mengelilingi Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tersimpan jejak panjang peradaban yang belum banyak dikenal publik.

Pulau yang kini lebih dikenal sebagai kawasan pertambangan dan destinasi wisata itu, sesungguhnya menyimpan bukti sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Moronene, salah satu kerajaan tua yang pernah berkembang di jazirah tenggara Pulau Sulawesi.

Di antara bukit-bukit yang menghadap lautan, berdiri sisa-sisa Benteng Tawulagi. Meski sebagian telah termakan usia, benteng tersebut masih menyimpan cerita tentang pusat pemerintahan Kerajaan Moronene, tempat para mokole atau raja dilantik sebelum memimpin rakyatnya.

Tokoh budaya Kabaena, Abdul Majid Ege, menuturkan bahwa Benteng Tawulagi merupakan bukti paling kuat yang menunjukkan Pulau Kabaena pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Moronene.

“Benteng Tawulagi merupakan tempat pelantikan mokole atau raja. Keberadaan benteng ini menjadi bukti sejarah bahwa Kabaena pernah menjadi pusat Kerajaan Moronene,” ujarnya.

Menurut Abdul Majid, keberadaan Tawulagi tidak berdiri sendiri. Sistem pertahanan kerajaan dibangun melalui sejumlah benteng pendukung yang tersebar di berbagai titik strategis Pulau Kabaena. Di antaranya Benteng Doule, Benteng Tontowatu, Benteng Mataewolangka, dan Benteng Tuntuntari.

Keempat benteng tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi dalam menjaga keamanan kerajaan.

 

 

Benteng Mataewolangka difungsikan sebagai pos pengintaian dari arah selatan. Dari lokasi yang berada di kawasan perbukitan itu, para penjaga dapat memantau setiap kapal yang memasuki wilayah perairan Kabaena.

Sementara Benteng Doule menjadi titik pengawasan terhadap wilayah barat dan utara. Adapun Benteng Tuntuntari serta Benteng Tontowatu berfungsi mengawasi jalur timur yang pada masa lalu menjadi salah satu lintasan pelayaran penting di kawasan timur Nusantara.

Baca Juga  Pemkab Buton Perpanjang Kerja sama dengan Unidayan

Keberadaan benteng-benteng tersebut memperlihatkan bahwa Kerajaan Moronene telah memiliki sistem pertahanan yang terorganisasi dengan baik. Posisi benteng yang berada di titik-titik strategis memungkinkan setiap ancaman dapat diketahui lebih dini sebelum mencapai pusat kerajaan.

Yang menarik, menurut Abdul Majid, benteng-benteng serupa tidak ditemukan di wilayah daratan Sulawesi Tenggara yang selama ini juga menjadi kawasan persebaran masyarakat Moronene.

Fakta itu memperkuat keyakinan para pemerhati sejarah bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Moronene memang berada di Pulau Kabaena, bukan di wilayah daratan sebagaimana berkembang dalam sejumlah pendapat.

“Di wilayah daratan tenggara Sulawesi sebagai asal-usul masyarakat Moronene tidak ditemukan benteng seperti yang ada di Kabaena. Itu menunjukkan pusat Kerajaan Moronene memang berada di Kabaena,” katanya.

Di kawasan Benteng Tawulagi hingga kini masih dapat ditemukan sebuah batu berukuran besar yang dipercaya sebagai tempat pelantikan mokole. Batu tersebut menjadi simbol legitimasi kekuasaan seorang pemimpin adat sebelum menjalankan pemerintahan.

 

 

Selain batu pelantikan, terdapat pula sebuah meriam tua berukuran besar yang hingga kini masih berada di kawasan benteng. Keberadaan meriam itu diyakini menjadi bagian dari sistem pertahanan kerajaan ketika menghadapi ancaman dari luar.

Menurut Abdul Majid, pada masa lalu masyarakat Kabaena tidak hanya menghadapi tekanan dari kolonial Belanda, tetapi juga ancaman kelompok perompak laut yang dikenal dengan sebutan Tobelo.

Kelompok Tobelo pada masa itu kerap melakukan penyerangan ke wilayah pesisir. Mereka tidak hanya merampas hasil bumi masyarakat, tetapi juga melakukan kekerasan terhadap penduduk yang ditemui.

Karena itu, benteng-benteng di Pulau Kabaena diperkirakan dibangun sekitar abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an sebagai bagian dari strategi pertahanan kerajaan. Selain menjadi tempat berlindung ketika terjadi serangan, benteng juga difungsikan sebagai pusat komando untuk mengatur pertahanan wilayah.

Baca Juga  TKA di PT OSS Minati Buah Segar. Pedagang Konawe Raup Untung Jutaan Rupiah

Dari sudut pandang sejarah, keberadaan benteng tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Moronene telah memiliki kemampuan membangun sistem pertahanan yang menyesuaikan kondisi geografis kepulauan. Bukit-bukit yang mengelilingi Kabaena dimanfaatkan sebagai titik pengamatan sehingga setiap pergerakan kapal dapat dipantau dari kejauhan.

Kini, sebagian besar benteng hanya menyisakan susunan batu yang mulai tertutup vegetasi. Namun bagi masyarakat Moronene, kawasan itu tetap dipandang sebagai ruang budaya yang menyimpan identitas leluhur mereka.

Sejumlah tokoh adat berharap situs-situs tersebut mendapat perhatian lebih serius melalui penelitian arkeologi, pendokumentasian sejarah, hingga upaya konservasi yang berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting agar jejak Kerajaan Moronene tidak hilang ditelan waktu.

Potensi sejarah Pulau Kabaena sesungguhnya tidak kalah dibandingkan kawasan-kawasan bersejarah lain di Indonesia. Keberadaan Benteng Tawulagi beserta jaringan benteng pendukungnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat Moronene membangun sistem pemerintahan, pertahanan, dan tata kehidupan sosial berabad-abad silam.

Lebih dari sekadar tumpukan batu tua, Benteng Tawulagi merupakan penanda perjalanan panjang sebuah kerajaan yang pernah berjaya di kawasan timur Nusantara. Ia menjadi pengingat bahwa Pulau Kabaena bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang membentuk identitas masyarakat Bombana hingga sekarang.

Pelestarian situs-situs tersebut bukan semata menjaga peninggalan fisik, melainkan juga merawat ingatan kolektif tentang peradaban Moronene yang pernah menjadikan Pulau Kabaena sebagai pusat kekuasaan, pertahanan, dan kebudayaan di jazirah tenggara Sulawesi. (ADV)

 

Tulis Komentar