Banner Iklan

Ditengah Penurunan Harga Komoditas, Dinas Pertanian Bombana Perkuat Ketahanan Pangan

 

Kilas Sultra- Bombana – Kabupaten Bombana mencatat perkembangan harga pangan yang relatif terkendali pada minggu pertama Mei 2026.

Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), Bombana mengalami penurunan harga atau deflasi sebesar 0,31 persen, yang dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan utama, terutama daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi.

Penurunan harga tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pasokan pangan di daerah masih dalam kondisi cukup dan distribusi komoditas strategis berjalan relatif lancar.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Bombana melalui Dinas Pertanian tetap melakukan pemantauan secara intensif untuk memastikan stabilitas harga dan menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan petani maupun peternak.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bombana, Sarif, SH, mengatakan bahwa perkembangan harga yang terjadi pada awal Mei 2026 menunjukkan kondisi pasar yang masih cukup stabil dibandingkan sejumlah daerah lain di Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Bombana mencatat angka perkembangan harga sebesar -0,31 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh komoditas daging ayam ras yang mengalami penurunan sebesar 0,657 poin, telur ayam ras sebesar 0,5224 poin, serta daging sapi sebesar 0,1754 poin.

Menurut Sarif, turunnya harga beberapa komoditas tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketersediaan pasokan di pasaran dan kondisi distribusi yang berjalan baik dalam beberapa pekan terakhir.

“Penurunan harga ini menunjukkan bahwa stok komoditas pangan, khususnya hasil peternakan, masih cukup tersedia di tingkat pedagang maupun peternak. Namun demikian, kami tetap melakukan pemantauan agar harga tetap berada pada tingkat yang wajar dan tidak merugikan petani maupun peternak,” ujar Sarif usai mengikuti rapat zoom meting di rujab kantor bupati Bombana 11 Mei 2026.

 

 

Ia menjelaskan bahwa stabilitas harga pangan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan bahwa harga yang terbentuk di pasar tetap memberikan keuntungan yang layak bagi pelaku usaha pertanian dan peternakan.

Menurutnya, apabila harga terlalu rendah dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi pendapatan peternak sehingga berpotensi menurunkan semangat produksi di masa mendatang.

Karena itu, Dinas Pertanian Bombana terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kelompok tani, peternak, pedagang, dan instansi terkait untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.

“Tujuan kita bukan hanya menjaga harga tetap murah, tetapi menjaga agar harga tetap stabil. Stabilitas inilah yang memberikan kepastian bagi masyarakat sebagai konsumen sekaligus bagi petani dan peternak sebagai produsen,” katanya.

Secara regional, Provinsi Sulawesi Tenggara pada minggu pertama Mei 2026 mengalami deflasi sebesar 0,66 persen. Penurunan tersebut terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit.

Data yang dirilis menunjukkan bahwa terdapat sejumlah daerah yang mengalami kenaikan harga maupun penurunan harga dengan tingkat yang bervariasi.

Tiga daerah dengan perkembangan harga tertinggi di Sulawesi Tenggara yaitu Kabupaten Konawe Utara sebesar 0,56 persen, Kabupaten Kolaka Utara sebesar 0,22 persen, dan Kabupaten Muna Barat sebesar 0,21 persen.

Sementara itu, tiga daerah dengan perkembangan harga terendah atau mengalami deflasi terbesar adalah Kabupaten Konawe Kepulauan sebesar -3,46 persen, Kabupaten Muna sebesar -3,12 persen, dan Kabupaten Buton sebesar -1,38 persen.

Di antara kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Tenggara, posisi Bombana dinilai masih berada dalam kategori yang relatif aman karena penurunan harga tidak terlalu dalam dan masih menunjukkan keseimbangan pasar yang cukup baik.

Sarif mengatakan bahwa pemerintah daerah akan terus memperkuat berbagai program yang bertujuan meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan sebagai langkah menjaga ketahanan pangan daerah.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah peningkatan pendampingan kepada kelompok tani dan peternak untuk meningkatkan produksi komoditas pangan strategis. Pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan lahan pertanian secara optimal guna meningkatkan pasokan pangan lokal.

Selain itu, Dinas Pertanian Bombana juga memperkuat sistem pemantauan harga dan stok pangan di pasar-pasar tradisional. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih awal potensi gejolak harga sehingga pemerintah dapat segera mengambil langkah antisipatif.

Menurut Sarif, penguatan produksi lokal menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas harga pangan. Semakin tinggi kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, semakin kecil ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

“Kami terus mendorong peningkatan produksi peternakan dan pertanian lokal. Ketika produksi daerah kuat, pasokan akan terjaga sehingga harga lebih stabil dan masyarakat tidak terlalu terdampak oleh gejolak pasar,” ujarnya.

Selain penguatan produksi, Dinas Pertanian juga berupaya meningkatkan efisiensi distribusi hasil pertanian dan peternakan. Distribusi yang lancar dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan barang di pasar sekaligus mencegah terjadinya lonjakan harga akibat hambatan pasokan.

Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah melalui program pemanfaatan lahan keluarga untuk menanam berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, sayuran, dan tanaman pangan lainnya. Program tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membantu mengendalikan inflasi dari sektor pangan.

Sarif menambahkan bahwa menjelang pertengahan tahun 2026, Dinas Pertanian akan terus melakukan evaluasi terhadap perkembangan harga komoditas utama. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa pasokan pangan tetap aman, terutama menjelang berbagai momentum yang biasanya memengaruhi permintaan masyarakat.

“Kami akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Harapan kami, harga pangan di Bombana tetap stabil, petani dan peternak mendapatkan keuntungan yang layak, sementara masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Dengan kondisi harga yang relatif terkendali pada minggu pertama Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Bombana optimistis stabilitas pangan daerah dapat terus terjaga. Melalui sinergi antara pemerintah, petani, peternak, pelaku usaha, dan masyarakat, Bombana diharapkan mampu mempertahankan ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (ADV)

 

Tulis Komentar