Kilas Sultra- BOMBANA –Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) terus berjuang dalam upaya hadirkan desa-desa yang mandiri secara ekonomi. Salah satu langkah yang kini menjadi fokus adalah penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang akan menjadi penggerak utama program One Village One Product (OVOP) atau Satu Desa Satu Produk Unggulan.
OVOP merupakan kebijakan strategis Pemerintahan Burhanuddin-Ahmad Yani dalam mengembangkan satu produk khas yang bernilai ekonomi tinggi di setiap desa dengan Landasan hukum pelaksanaan tertuang dalam Perbup Bombana No. 19 Tahun 2023.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPMD Kabupaten Bombana, Hamlin, S.Pd., M.Si, mengatakan bahwa selama ini desa-desa di Bombana memiliki banyak potensi ekonomi, tetapi belum semuanya dikelola secara maksimal.
Ada desa yang kaya hasil pertanian, ada yang memiliki perkebunan, peternakan, perikanan, hingga hasil laut yang melimpah. Namun sering kali masyarakat menjual hasil produksinya secara sendiri-sendiri sehingga harga jual rendah dan keuntungan yang diperoleh tidak maksimal.
Karena itu, pemerintah ingin menghadirkan sistem yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut melalui BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih.
“Intinya sederhana. Kita ingin hasil kerja petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM bisa dikelola lebih baik sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar kepada masyarakat,” kata Hamlin.
Menurutnya, BUMDes dan koperasi nantinya berfungsi seperti rumah besar ekonomi desa. Masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi bergerak bersama dalam satu wadah usaha yang dikelola secara profesional.
Misalnya, sebuah desa menghasilkan jagung dalam jumlah besar. Selama ini petani menjual hasil panennya kepada tengkulak dengan harga yang ditentukan pembeli. Namun melalui BUMDes atau koperasi, hasil panen masyarakat dapat dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dijual dalam jumlah besar sehingga memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Hal yang sama juga berlaku bagi nelayan, peternak maupun pelaku usaha kecil lainnya.
“Kalau bergerak sendiri-sendiri, keuntungan yang diperoleh terbatas. Tetapi kalau dihimpun melalui koperasi atau BUMDes, maka kekuatan ekonominya akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Hamlin menjelaskan bahwa program OVOP yang sedang didorong DPMD memiliki tujuan agar setiap desa memiliki produk unggulan yang menjadi identitas ekonomi desa tersebut.
Sebagai contoh, desa yang memiliki potensi perikanan dapat fokus mengembangkan usaha hasil laut. Desa yang memiliki perkebunan kakao dapat menjadikan kakao sebagai produk unggulan. Sementara desa yang memiliki hasil pertanian melimpah dapat mengembangkan usaha pengolahan pangan.
Dengan cara itu, desa tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
“Kalau selama ini hanya menjual hasil panen, ke depan kita ingin masyarakat juga bisa mengolah hasil tersebut menjadi produk yang lebih bernilai. Di situlah peran BUMDes dan koperasi menjadi penting,” jelasnya.
Selain mengembangkan usaha desa, DPMD Bombana juga sedang mendorong percepatan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sesuai arahan pemerintah pusat.
Koperasi ini nantinya tidak hanya bergerak di bidang simpan pinjam, tetapi juga dapat menjadi pusat pemasaran, distribusi hasil produksi masyarakat, hingga penyedia kebutuhan pokok masyarakat desa.
Menurut Hamlin, banyak masyarakat yang masih menganggap koperasi hanya tempat meminjam uang. Padahal konsep Koperasi Desa Merah Putih jauh lebih luas.
Koperasi dapat membantu petani memperoleh pupuk, membantu nelayan mendapatkan sarana produksi, sekaligus membantu memasarkan hasil usaha anggota dengan harga yang lebih baik.
“Koperasi ini bukan sekadar tempat menyimpan atau meminjam uang. Koperasi harus menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hamlin mengatakan bahwa pemerintah juga mendorong agar BUMDes memiliki badan hukum yang jelas. Langkah ini penting agar BUMDes lebih dipercaya dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
Dengan legalitas yang kuat, BUMDes dapat lebih mudah mengakses bantuan, pembiayaan, maupun peluang kerja sama usaha.
Selain itu, DPMD juga mendorong kolaborasi antara BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih. Selama ini sebagian pihak menganggap kedua lembaga tersebut akan saling bersaing. Namun menurut Hamlin, justru keduanya harus saling mendukung.
BUMDes dapat berperan sebagai pengelola usaha desa, sementara koperasi menjadi wadah yang menghimpun kekuatan ekonomi masyarakat.
“BUMDes dan koperasi harus berjalan beriringan. Kalau keduanya kuat, maka ekonomi desa juga akan semakin kuat,” katanya.
Salah satu program yang disiapkan adalah pengelolaan lumbung pangan desa. Nantinya, hasil pertanian masyarakat dapat disimpan dan dikelola melalui BUMDes maupun koperasi sehingga tidak langsung dijual ketika harga sedang rendah.
Dengan sistem tersebut, masyarakat memiliki kesempatan memperoleh harga yang lebih baik sekaligus menjaga ketersediaan pangan di desa.
Tidak hanya itu, BUMDes dan koperasi juga dapat menjadi pemasok bahan pangan untuk berbagai program pemerintah, termasuk program pemenuhan gizi masyarakat.

Artinya, hasil produksi petani, peternak, nelayan, dan pekebun di desa dapat langsung diserap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Hamlin meyakini bahwa apabila seluruh desa mampu mengembangkan potensi ekonominya secara terorganisir, maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara bertahap.
Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh program tersebut bukan sekadar membentuk koperasi atau BUMDes di atas kertas, melainkan menciptakan lapangan usaha, meningkatkan pendapatan warga, dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah.
“Kami ingin masyarakat merasakan manfaat langsung. Ketika hasil pertanian mudah dijual, hasil tangkapan nelayan terserap pasar, usaha kecil berkembang, dan pendapatan keluarga meningkat, maka itulah ukuran keberhasilan program ini,” ujar Hamlin.
Karena itu, DPMD Bombana akan terus melakukan pendampingan kepada pemerintah desa agar BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih benar-benar menjadi alat penggerak ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, ke depan desa-desa di Bombana tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan dari potensi yang dimiliki sendiri. Jika desa maju dan mandiri, maka Bombana juga akan tumbuh menjadi daerah yang semakin kuat dan berdaya saing,” pungkasnya. (ADV)
